{"id":14760,"date":"2026-09-21T02:36:17","date_gmt":"2026-09-20T19:36:17","guid":{"rendered":"https:\/\/www.tournesia.com\/blog\/?p=14760"},"modified":"2026-09-21T02:36:17","modified_gmt":"2026-09-20T19:36:17","slug":"buku-wisata-halal-terbit-ini-arah-baru-pariwisata-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.tournesia.com\/blog\/buku-wisata-halal-terbit-ini-arah-baru-pariwisata-indonesia\/","title":{"rendered":"Buku Wisata Halal Terbit, Ini Arah Baru Pariwisata Indonesia"},"content":{"rendered":"<p class=\"isSelectedEnd\"><a href=\"https:\/\/www.tournesia.com\/blog\/buku-wisata-halal-terbit-ini-arah-baru-pariwisata-indonesia\/\">Wisata halal<\/a> bukan sekadar label, melainkan tentang kesiapan destinasi dan pelaku usaha dalam menghadirkan pengalaman perjalanan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim. Gagasan itu mengemuka dalam peluncuran buku <em>Pengembangan Wisata Halal: Panduan bagi Pelaku Usaha, Pemerintah, dan Akademisi<\/em> di Hotel Sofyan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 19 September 2026.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Buku tersebut ditulis oleh Dr. Firly Primadona, Prof. Dr. Hartoyo, Prof. Dr. Ir. Lilik Noor Yuliati, dan Dr. Laily Dwi Arsyianti. Kehadirannya ditujukan untuk menjembatani jarak antara pembahasan akademik, kebijakan, dan penerapan layanan wisata di lapangan.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Selama ini, istilah wisata halal maupun wisata ramah Muslim kerap diperdebatkan. Namun, fokus utama pengembangannya bukan pada perbedaan sebutan, melainkan kemampuan industri untuk memahami kebutuhan wisatawan secara profesional. Kebutuhan tersebut dapat berkaitan dengan akses makanan halal, kemudahan beribadah, informasi yang jelas, kebersihan, kenyamanan, hingga layanan yang menghormati privasi.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Menurut laporan detikTravel, buku ini disusun sebagai panduan praktis bagi pelaku usaha, pemerintah, akademisi, pengelola destinasi, dan pembuat kebijakan. Dengan demikian, wisata halal tidak berhenti pada promosi, melainkan memiliki arah pengembangan yang dapat diterapkan secara lebih terukur.<\/p>\n<h2><strong>Mengapa Wisata Halal Memerlukan Panduan Bersama?<\/strong><\/h2>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Pengembangan wisata halal melibatkan banyak sektor sekaligus. Hotel, restoran, biro perjalanan, pengelola atraksi, transportasi, usaha mikro, serta pemerintah daerah memiliki peran yang saling berkaitan. Jika setiap pihak berjalan sendiri, standar layanan berpotensi tidak seragam dan pengalaman wisatawan menjadi tidak utuh.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Peneliti wisata halal sekaligus penulis utama buku, Firly Primadona atau Dona, mengatakan buku tersebut memadukan kajian konseptual dengan panduan aplikatif. Seperti dikutip dari Media Indonesia, ia menekankan perlunya sinergi antara kebijakan pemerintah dan komitmen pelaku usaha agar tercipta pengalaman wisata berstandar tinggi.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Panduan bersama menjadi relevan karena karakter wisatawan Muslim terus berkembang. Mereka tidak hanya mencari tempat wisata atau makanan yang sesuai kebutuhan, tetapi juga memperhatikan kualitas layanan, kemudahan akses informasi, keamanan perjalanan, serta pengalaman yang nyaman bersama keluarga maupun kelompok.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Kebutuhan tersebut tidak selalu harus diterjemahkan menjadi perubahan besar pada sebuah destinasi. Pada banyak kasus, perbaikan dapat dimulai dari langkah dasar, seperti ketersediaan informasi menu, ruang ibadah yang layak, kebersihan fasilitas umum, layanan yang ramah, serta kemampuan staf menjelaskan fasilitas yang tersedia secara akurat.<\/p>\n<h2><strong>Dari Pasar Khusus Menjadi Bagian Industri Pariwisata<\/strong><\/h2>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Chairman Indonesian Halal Life Center, Sapta Nirwandar, menilai wisata halal telah berkembang dari pasar khusus menjadi bagian penting dari industri pariwisata global. Dalam laporan Media Indonesia, ia menyebut peluang ini dapat memperkuat daya saing destinasi sekaligus menghadirkan pengalaman yang lebih inklusif dan berkelanjutan.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Perubahan cara pandang tersebut penting. Wisata halal tidak berarti sebuah destinasi hanya ditujukan bagi wisatawan Muslim. Pendekatan ini justru menekankan kualitas layanan yang dapat dinikmati lebih luas, tanpa menghilangkan karakter budaya dan daya tarik lokal suatu daerah.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Indonesia memiliki modal berupa keragaman alam, budaya, kuliner, dan komunitas lokal. Namun, modal itu perlu diikuti kesiapan produk wisata. Destinasi yang memiliki pemandangan indah tetapi tidak didukung akses informasi, layanan makanan yang jelas, sanitasi memadai, dan sumber daya manusia yang siap, akan sulit memberi pengalaman perjalanan yang konsisten.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Sapta juga mengingatkan bahwa pengembangan wisata halal tidak cukup hanya berfokus pada pemenuhan standar. Kualitas layanan dan pengalaman wisatawan harus menjadi perhatian utama. Artinya, sertifikasi atau kelengkapan fasilitas perlu disertai pelayanan yang baik sejak tahap perencanaan perjalanan hingga wisatawan kembali pulang.<\/p>\n<h2><strong>Peran Pemerintah, Usaha, dan Akademisi<\/strong><\/h2>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Pemerintah memiliki peran dalam menyusun arah kebijakan, memfasilitasi peningkatan kapasitas pelaku usaha, serta memastikan pengembangan destinasi tidak bertentangan dengan karakter masyarakat setempat. Dukungan pemerintah daerah juga penting untuk menghubungkan atraksi, UMKM, penginapan, transportasi, dan fasilitas publik dalam satu ekosistem.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Pelaku usaha berada pada titik yang paling dekat dengan wisatawan. Hotel dapat memperkuat informasi fasilitasnya, restoran dapat memberi kepastian mengenai produk dan proses layanan, sementara biro perjalanan dapat menyusun itinerary yang mempertimbangkan waktu ibadah, pilihan konsumsi, serta kebutuhan keluarga.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Sementara itu, akademisi berperan melalui riset, pemetaan kebutuhan wisatawan, evaluasi pelayanan, dan penyusunan model pengembangan yang sesuai dengan kondisi tiap daerah. Buku <em>Pengembangan Wisata Halal<\/em> menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan tiga kelompok tersebut dalam rujukan yang sama.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Kolaborasi ini juga dibutuhkan agar pengembangan wisata halal tidak hanya terkonsentrasi pada destinasi yang telah populer. Daerah dengan kekuatan kuliner, budaya, desa wisata, atau wisata alam dapat mengembangkan layanan ramah Muslim sesuai kapasitas dan identitas lokalnya.<\/p>\n<h2><strong>Tantangan Utamanya Ada pada Pengalaman Wisatawan<\/strong><\/h2>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Buku panduan ini hadir ketika kebutuhan akan referensi praktis semakin besar. detikTravel mencatat peluncurannya berlangsung di tengah perhatian terhadap implementasi kewajiban sertifikasi halal yang berlanjut pada Oktober 2026. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha perlu memahami keterkaitan antara regulasi, kesiapan produk, dan pelayanan wisata.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Tantangan di lapangan bukan hanya soal menyediakan fasilitas. Pelaku usaha perlu menghindari klaim yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Informasi mengenai produk, fasilitas ibadah, pilihan makanan, atau layanan khusus harus dapat dipertanggungjawabkan agar tidak menimbulkan kekecewaan wisatawan.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Pengelola destinasi juga perlu memastikan wisata halal tidak dipahami secara sempit. Pengalaman wisata yang baik tetap bertumpu pada keamanan, kebersihan, keramahan, aksesibilitas, dan penghormatan terhadap budaya setempat. Nilai-nilai tersebut relevan untuk seluruh wisatawan, termasuk wisatawan Muslim.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Bagi pelaku industri, buku ini dapat digunakan sebagai titik awal untuk mengevaluasi layanan yang sudah tersedia, mengidentifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi, lalu menyusun perbaikan secara bertahap. Bagi pemerintah dan akademisi, referensi tersebut dapat memperkuat koordinasi agar potensi wisata halal Indonesia berkembang dengan standar yang jelas dan tetap berakar pada karakter lokal.<\/p>\n<p><em><strong>Sumber:<\/strong> <a href=\"https:\/\/travel.detik.com\/travel-news\/d-8671517\/wisata-halal-terus-berkembang-buku-panduan-diluncurkan\">detikTravel<\/a>, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/935315\/potensi-besar-wisata-halal-dorong-indonesia-perkuat-industri-pariwisata-global\">Media Indonesia<\/a>, <a href=\"https:\/\/rri.co.id\/berita-lain\/2742913\/buku-pengembangan-wisata-halal-diluncurkan-di-jakarta\">RRI<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wisata halal bukan sekadar label, melainkan tentang kesiapan destinasi dan pelaku usaha dalam menghadirkan pengalaman perjalanan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim. Gagasan itu mengemuka dalam peluncuran buku Pengembangan Wisata Halal: Panduan bagi Pelaku Usaha, Pemerintah, dan Akademisi di Hotel Sofyan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 19 September 2026. Buku tersebut ditulis oleh Dr. Firly Primadona, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14761,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[342],"tags":[2272,2274,2277,2273,2196,2276,2275,2270,1106,2271],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.tournesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14760"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.tournesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.tournesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tournesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tournesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14760"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.tournesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14760\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14762,"href":"https:\/\/www.tournesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14760\/revisions\/14762"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tournesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14761"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.tournesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14760"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tournesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14760"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tournesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14760"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}