Kue talam dikenal lewat perpaduan rasa manis dan gurih yang sederhana, tetapi mudah dikenali. Lapisan bawahnya dapat berwarna hijau pandan, cokelat gula merah, kuning ubi, atau ungu, sedangkan lapisan atas berwarna putih dari adonan santan. Teksturnya lembut, padat, dan sedikit kenyal saat digigit.
Di tengah derasnya pilihan makanan modern, kue talam tetap bertahan sebagai bagian dari jajanan pasar. Kudapan ini kerap hadir dalam sajian keluarga, pasar tradisional, acara budaya, hingga menu berbuka puasa. Bahan dasarnya pun dekat dengan dapur Nusantara: tepung beras atau tepung sagu, santan, gula, garam, serta bahan pemberi warna dan rasa.
Kue talam sering dikaitkan dengan kuliner Betawi. Namun, keberadaannya tidak berhenti di Jakarta. Variasi talam juga hidup di berbagai daerah, dengan bahan dan tampilan yang menyesuaikan hasil bumi serta kebiasaan masyarakat setempat. Di Sumatra Barat, misalnya, talam gula merah dikenal dengan warna cokelat yang kuat. Sementara di daerah lain, ubi, labu, jagung, hingga pandan menjadi pilihan bahan utama.
Bagi Nesian Trippers yang gemar berburu makanan khas, kue talam menawarkan pengalaman kuliner yang lebih dari sekadar rasa. Dalam satu potong kecilnya, ada cerita tentang bahan lokal, teknik kukus, dan perjalanan budaya yang terus bertahan dari generasi ke generasi.
Jejak Betawi dan Klaim Sejarah yang Perlu Dipahami
Kue talam kerap disebut sebagai jajanan khas Betawi yang telah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Kompas.com, dalam artikel yang membahas filosofi kue talam pada 2023, menulis bahwa kudapan ini diperkirakan telah ada lebih dari 500 tahun dan dikaitkan dengan perkembangan masyarakat di Batavia. Artikel tersebut juga menyebut adanya pengaruh pertemuan budaya Betawi, Tionghoa, dan Belanda dalam cerita yang berkembang mengenai kue talam.
Namun, usia lebih dari lima abad maupun penyebutan sejak abad ke-16 perlu ditempatkan sebagai catatan sejarah kuliner yang masih banyak beredar melalui penuturan dan rujukan populer, bukan sebagai penanggalan yang telah dibuktikan lewat satu dokumen primer tunggal. Karena itu, penyebutan “sudah ada sejak abad ke-16” lebih tepat dipahami sebagai klaim yang dilaporkan media, bukan kepastian sejarah tanpa ruang perdebatan.
Yang lebih mudah dikenali adalah kedekatan kue talam dengan tradisi kuliner Betawi. Bahan seperti santan, tepung, gula, dan pandan merupakan unsur yang lekat dengan banyak jajanan tradisional di Jakarta dan wilayah sekitarnya. Cara memasaknya dengan dikukus juga membuat kue talam memiliki karakter sebagai kue basah yang sebaiknya disantap dalam keadaan segar.
Nama “talam” sendiri lazim dikaitkan dengan wadah atau loyang bulat tanpa kaki yang digunakan untuk menyajikan atau mencetak kue. Penamaan berdasarkan peralatan saji menunjukkan bagaimana benda-benda rumah tangga turut membentuk identitas makanan tradisional.
Perpaduan Manis dan Gurih yang Menjadi Ciri Utama
Cita rasa kue talam terletak pada keseimbangan, bukan kemanisan berlebihan. Lapisan bawah biasanya membawa rasa manis dari gula pasir, gula merah, atau bahan alami seperti ubi dan labu. Lapisan atas justru menghadirkan rasa gurih lembut dari santan dan sedikit garam.
Dua karakter rasa tersebut bertemu tanpa saling mendominasi. Itulah alasan kue talam terasa ringan, tetapi tetap meninggalkan rasa yang khas. Santan memberi aroma dan kelembutan, sementara tepung beras, sagu, atau tapioka membentuk tekstur yang stabil setelah proses pengukusan.
Kompas.com menuliskan rasa manis dan tekstur lengket pada kue talam kerap dimaknai sebagai gambaran kebersamaan antarmanusia. Tafsir ini tidak harus diperlakukan sebagai satu-satunya makna, tetapi menunjukkan bahwa jajanan tradisional sering kali hidup bersama nilai sosial yang dibangun masyarakat pendukungnya.
Dalam konteks kuliner, lapisan berbeda pada kue talam juga memperlihatkan kecermatan teknik. Adonan bawah harus cukup matang sebelum adonan santan dituangkan. Jika waktunya terlalu cepat, dua lapisan dapat bercampur. Jika terlalu lama, lapisan atas sulit menyatu dengan baik. Proses sederhana ini membutuhkan pengaturan panas, waktu, dan kekentalan adonan yang tepat.
Ragam Kue Talam dari Berbagai Daerah
Kue talam bukan satu bentuk yang seragam. Setiap daerah dapat menghadirkan interpretasi sendiri, baik melalui pilihan bahan maupun cara penyajiannya. Perbedaan ini menjadi kekuatan kuliner Nusantara karena satu nama makanan dapat membawa identitas lokal yang berbeda-beda.
Talam pandan adalah salah satu varian yang mudah dijumpai. Warna hijaunya berasal dari pandan atau campuran daun suji, sedangkan bagian atasnya tetap putih dari santan. Varian ini umum ditemukan sebagai jajanan pasar dan sering disajikan dalam potongan kecil.
Talam ubi memanfaatkan ubi sebagai bahan utama lapisan bawah. Warna kuning, oranye, atau ungu dapat muncul secara alami dari jenis ubi yang digunakan. Selain memberi warna, ubi juga membuat rasa kue lebih padat dan memiliki aroma khas.
Di sejumlah daerah Sumatra, kue talam dapat menggunakan gula merah sehingga menghasilkan warna cokelat serta rasa karamel yang lebih kuat. Ada pula varian gurih, seperti talam udang atau talam berbumbu, yang memperluas pengertian kue talam dari kudapan manis menjadi sajian bercita rasa asin.
Keragaman itu menunjukkan bahwa kue talam tidak hanya penting sebagai ikon kuliner Betawi, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi jajanan kukus yang berkembang luas di Indonesia dan Asia Tenggara. Bahan dasarnya boleh serupa, tetapi setiap daerah memberi sentuhan sesuai bahan pangan yang tersedia dan selera masyarakatnya.
Kue Talam dalam Wisata Kuliner Jakarta
Jakarta tidak hanya menawarkan gedung tinggi, pusat belanja, dan wisata kota. Bagi wisatawan, jajanan tradisional seperti kue talam dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal lapisan budaya Betawi yang masih bertahan di tengah perkembangan ibu kota.
Kue talam mudah dijumpai di pasar tradisional, gerai jajanan, penjual kue basah, hingga kegiatan budaya Betawi. Kehadirannya sering berdampingan dengan kue cucur, kue rangi, kue pancong, putu mayang, dan aneka jajanan pasar lain. Kombinasi ini menciptakan pengalaman yang berbeda dari sekadar mencicipi makanan; pengunjung dapat melihat cara jajanan tradisional diproduksi, dijual, dan diwariskan.
Bagi pelaku usaha kuliner, kue talam juga memiliki peluang untuk dikembangkan tanpa meninggalkan identitas dasarnya. Inovasi dapat dilakukan melalui bahan lokal, kemasan yang lebih praktis, atau penyajian yang menarik. Namun, rasa santan yang gurih, tekstur lembut, serta ciri dua lapisan tetap perlu dijaga agar kue talam tidak kehilangan karakternya.
Di era ketika wisata kuliner banyak digerakkan oleh visual dan tren singkat, kue talam menawarkan nilai lain: rasa yang akrab, bahan yang mudah dikenali, dan cerita budaya yang panjang. Itulah yang membuat jajanan pasar ini tetap relevan untuk dicari, dikenalkan, dan dinikmati kembali.













