BANDUNG — Batagor Bandung mengukuhkan popularitasnya di mata pencinta kuliner setelah menempati posisi pertama daftar gorengan terbaik di Asia Tenggara versi TasteAtlas 2026. Jajanan berbahan tahu dan adonan ikan ini dilaporkan memperoleh nilai 4,4 dalam pemeringkatan yang dirilis pada 16 Mei 2026.
Menurut detikFood, daftar tersebut disusun dari lebih dari 2.900 penilaian pengguna, dengan sekitar 2.003 ulasan yang dinyatakan valid oleh sistem TasteAtlas. Batagor berada di atas karipap Malaysia, lumpiang Shanghai dari Filipina, ayam goreng Indonesia, dan pempek.
Peringkat ini tidak hanya memperlihatkan besarnya daya tarik batagor sebagai camilan. Di balik tahu goreng yang renyah dan bumbu kacang yang gurih, terdapat perjalanan panjang jajanan Bandung yang tumbuh dari makanan sederhana hingga menjadi salah satu ikon kuliner Indonesia.
Bagi wisatawan, batagor kini bukan sekadar pilihan untuk mengganjal perut. Kuliner ini telah menjadi bagian dari pengalaman menjelajahi Bandung, berdampingan dengan suasana kota, jajanan jalanan, dan tradisi kuliner Sunda yang terus berkembang.
Dari Bakso Tahu Goreng Menjadi Nama yang Melekat
Batagor merupakan singkatan dari bakso tahu goreng. Nama tersebut menggambarkan bahan dan proses pengolahannya: adonan ikan yang dimasukkan ke dalam tahu atau kulit pangsit, lalu digoreng hingga berwarna keemasan.
Adonan batagor umumnya menggunakan ikan tenggiri dan tepung tapioka. Setelah digoreng, potongan batagor disajikan dengan saus kacang kental, kecap manis, sambal, dan perasan jeruk limau. Perpaduan rasa gurih, manis, pedas, serta segar membuatnya mudah diterima oleh banyak kalangan.
Batagor kerap disandingkan dengan siomay karena memiliki bahan dasar yang mirip. Pembeda utamanya terletak pada cara memasak. Siomay biasanya dikukus, sedangkan batagor digoreng sehingga menghasilkan tekstur lebih renyah di bagian luar.
Penggunaan tahu, kulit pangsit, dan adonan ikan juga memperlihatkan kedekatan batagor dengan pengaruh kuliner Tionghoa yang telah lama berinteraksi dengan tradisi makan lokal. Dalam perkembangannya, batagor menemukan identitasnya sendiri sebagai jajanan khas Bandung dengan karakter rasa yang kuat.
Asal-Usul yang Berkembang dalam Cerita Kuliner
Kisah lahirnya batagor memiliki beberapa versi. Salah satu cerita yang paling dikenal menyebut H. Isan, perantau asal Purwokerto yang kemudian berdagang di Bandung, sebagai sosok yang memopulerkan batagor pada akhir 1960-an.
DetikFood menuliskan bahwa H. Isan disebut mengolah bakso dan tahu kukus yang tidak habis terjual dengan cara digoreng, lalu menyajikannya bersama bumbu kacang. Olahan tersebut mendapat respons baik dari warga dan kemudian berkembang menjadi batagor.
Narasi tersebut penting sebagai bagian dari sejarah lisan kuliner Bandung. Namun, asal-usul makanan tradisional sering berkembang melalui penuturan keluarga, pedagang, dan masyarakat, sehingga tidak selalu memiliki satu dokumen primer yang menetapkan pencipta tunggalnya.
Yang tidak terbantahkan, batagor telah tumbuh menjadi jajanan yang sangat lekat dengan Bandung. Dari gerobak sederhana hingga gerai modern, kudapan ini bertahan karena memiliki rasa yang mudah dikenali dan dapat dinikmati dalam berbagai suasana.
Batagor sebagai Tujuan Wisata Kuliner Bandung
Batagor kini mudah ditemui di banyak kota Indonesia. Namun, Bandung tetap menjadi tempat yang dicari banyak orang untuk menikmati versi yang dianggap paling dekat dengan akar kulinernya.
Sejumlah nama seperti Batagor H. Isan, Batagor Kingsley, Batagor Riri, Batagor Burangrang, dan Batagor Hj. Darto kerap menjadi tujuan wisata kuliner. Setiap tempat memiliki karakter sendiri, mulai dari tekstur adonan, tingkat kekenyalan, aroma ikan, hingga kekentalan saus kacang.
Keberadaan batagor di Bandung juga memperlihatkan perubahan wajah jajanan tradisional. Makanan yang dahulu banyak dijajakan melalui gerobak kini tersedia di restoran, pusat oleh-oleh, hingga layanan pesan antar. Meski cara menjualnya berubah, bahan utama dan rasa khasnya tetap dipertahankan.
Wisatawan dapat memilih batagor kering untuk sensasi renyah atau batagor kuah bagi yang ingin menikmati sajian hangat. Dua bentuk ini memperlihatkan keluwesan batagor dalam mengikuti selera tanpa meninggalkan identitas dasarnya.
Pengakuan yang Membuka Ruang bagi Kuliner Lokal
Peringkat TasteAtlas merupakan pemeringkatan berbasis ulasan pengguna, bukan penetapan resmi lembaga gastronomi. Meski demikian, hasil tersebut tetap menjadi perhatian karena memperkenalkan batagor kepada khalayak kuliner yang lebih luas.
Masuknya ayam goreng dan pempek dalam lima besar daftar yang sama turut memperlihatkan kuatnya posisi kuliner Indonesia di kategori gorengan Asia Tenggara. Setiap makanan membawa identitas daerah, teknik memasak, dan racikan bumbu yang berbeda.
Bagi pelaku usaha, perhatian terhadap batagor dapat menjadi peluang untuk memperkenalkan kuliner lokal dengan kualitas bahan yang terjaga. Sementara bagi Nesian Trippers, satu porsi batagor di Bandung menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar camilan: ada rasa, kreativitas, dan cerita panjang yang tumbuh dari jalanan kota.













