Status Anak Krakatau turun dari Level III atau Siaga menjadi Level II atau Waspada. Perubahan ini memberi ruang optimisme baru bagi sektor pariwisata di pesisir Banten, khususnya Anyer dan Cinangka, yang sebelumnya ikut terdampak kekhawatiran publik atas aktivitas vulkanik di Selat Sunda.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menurunkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau pada 21 September 2026 pukul 18.30 WIB. Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi menyeluruh menunjukkan kecenderungan aktivitas gunung api menurun hingga 20 September 2026.
Meski demikian, turunnya status bukan berarti kawasan Gunung Anak Krakatau dapat dikunjungi tanpa batas. Pada Level II, masyarakat, nelayan, pendaki, dan wisatawan tetap dilarang memasuki radius dua kilometer dari pusat aktivitas gunung. Pembatasan itu harus dipahami sebagai bagian dari mitigasi, bukan penghalang untuk menikmati seluruh kawasan wisata Banten.
Sudut pandang ini penting, sebab wisata Anyer berada di daratan pesisir Banten, sedangkan pusat aktivitas Anak Krakatau berada di perairan Selat Sunda. Karena itu, pemulihan wisata tidak cukup hanya dengan mengandalkan kabar status gunung turun. Pelaku usaha, pemerintah daerah, dan wisatawan tetap perlu mengacu pada informasi resmi mengenai cuaca, kondisi laut, gelombang, serta arahan kebencanaan sebelum memulai perjalanan.
Level Waspada Bukan Berarti Risiko Hilang
Level II atau Waspada menunjukkan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berada di atas kondisi normal. Status ini bukan penanda bahwa gunung telah berhenti aktif, melainkan hasil penilaian bahwa tingkat aktivitasnya tidak lagi berada pada kategori Siaga seperti sebelumnya.
Saat status masih berada di Level III pada awal September, Badan Geologi merekomendasikan larangan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas. Pemerintah juga meminta masyarakat pesisir Banten dan Lampung untuk tetap tenang, tidak mempercayai isu tsunami yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta mengikuti arahan BPBD setempat.
Setelah status diturunkan, radius rekomendasi berubah menjadi dua kilometer. Perubahan ini memperlihatkan adanya penyesuaian berdasarkan hasil pemantauan teknis, tetapi tidak menghapus kebutuhan untuk bersikap waspada. Aktivitas gunung api bersifat dinamis dan status dapat dievaluasi kembali apabila ditemukan perubahan signifikan.
Bagi wisatawan, pesan utamanya sederhana: Pantai Anyer dan sekitarnya tidak perlu dijauhi hanya karena kabar aktivitas Anak Krakatau, tetapi rencana liburan harus disusun secara bertanggung jawab. Hindari perjalanan laut menuju zona pembatasan, jangan mengikuti informasi dari unggahan media sosial yang tidak jelas sumbernya, dan pastikan operator wisata menggunakan jalur serta prosedur yang sesuai arahan otoritas.
Informasi terbaru sebaiknya dipantau melalui kanal Badan Geologi, PVMBG, MAGMA Indonesia, BMKG, BPBD, serta pemerintah daerah. Dengan begitu, keputusan berwisata tidak didasarkan pada rasa takut atau euforia sesaat, melainkan pada data dan kondisi aktual.
Anyer dan Cinangka Memiliki Modal untuk Pulih
Wisata Anyer tidak hanya bertumpu pada pemandangan Gunung Anak Krakatau dari kejauhan. Kawasan ini memiliki pantai, hotel, restoran, aktivitas rekreasi air, serta akses yang relatif dekat dari Jakarta dan kota-kota di sekitarnya. Ketika kekhawatiran akibat aktivitas vulkanik meningkat, dampaknya dapat langsung terasa pada rencana perjalanan, tingkat hunian penginapan, hingga perputaran ekonomi pelaku usaha lokal.
Pemerintah Kabupaten Serang sebelumnya mencatat Anyer dan Cinangka tetap menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan dari Jabodetabek dan daerah sekitar. Kawasan ini menawarkan pantai ramah keluarga, aktivitas seperti ATV dan banana boat, serta sejumlah tujuan lain seperti Karang Bolong dan Titik Nol Kilometer Jalan Anyer–Panarukan.
Dalam periode libur sekolah Juli 2026, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Kabupaten Serang menyebut tingkat hunian hotel di Anyer dan Cinangka berada pada kisaran 80 hingga 100 persen. Angka tersebut menggambarkan bahwa minat wisatawan terhadap pesisir Serang tetap kuat ketika kondisi perjalanan dan keamanan memungkinkan.
Status Anak Krakatau turun dapat menjadi momentum bagi pemerintah daerah dan pelaku industri untuk membangun kembali kepercayaan publik. Namun, strategi pemulihan sebaiknya tidak berhenti pada ajakan “ayo berlibur”. Informasi keselamatan perlu ditempatkan di bagian depan promosi, termasuk penjelasan mengenai kondisi cuaca, jalur wisata yang digunakan, nomor darurat, dan sumber informasi resmi.
Keterbukaan seperti ini justru dapat membuat wisatawan merasa lebih nyaman. Destinasi yang memberikan informasi risiko secara jelas akan terlihat lebih profesional dibandingkan tempat yang hanya menonjolkan sisi hiburan tanpa kesiapan mitigasi.
Panduan Liburan ke Anyer Setelah Status Turun
Nesian Trippers yang berencana menuju Anyer, Cinangka, atau pantai lain di sekitar Selat Sunda dapat memulai persiapan dengan memeriksa kondisi perjalanan satu hingga dua hari sebelum keberangkatan. Fokusnya bukan hanya status Gunung Anak Krakatau, melainkan juga prakiraan cuaca, tinggi gelombang, kondisi lalu lintas, dan pengumuman dari pengelola destinasi.
Jika agenda liburan melibatkan perjalanan laut, pastikan operator kapal memiliki informasi operasional terbaru serta tidak membawa penumpang mendekati zona terlarang di sekitar pusat aktivitas Anak Krakatau. Jangan tergoda tawaran perjalanan yang menjanjikan sensasi melihat gunung dari jarak dekat tetapi mengabaikan batas aman resmi.
Bagi wisatawan yang memilih menikmati pantai dari daratan, penting untuk tetap mematuhi arahan petugas di lokasi. Perhatikan papan informasi, kondisi ombak, jalur evakuasi, dan lokasi titik kumpul. Kesiapsiagaan tidak harus membuat liburan terasa menegangkan; justru pengetahuan dasar itu membantu wisatawan menikmati perjalanan dengan lebih tenang.
Gunakan pula sumber informasi yang kredibel. Badan Geologi menegaskan bahwa pembaruan aktivitas Gunung Anak Krakatau disampaikan melalui kanal resmi PVMBG, Badan Geologi, dan MAGMA Indonesia. Informasi tersebut perlu menjadi rujukan utama, terutama saat muncul video erupsi, isu tsunami, atau klaim kondisi wisata yang beredar di media sosial.
Pemulihan wisata Anyer akan lebih kuat apabila wisatawan, pelaku usaha, dan pemerintah bergerak dengan satu prinsip: menikmati pesisir Banten sambil tetap menghormati batas keselamatan yang telah ditetapkan.













